Nataindonesia.com – Jong Sumekar ikut menyoroti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto memiliki banyak masalah. Salah satunya kelebihan jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang mencapai 6.877 titik.
Semula pemerintah berencana membuat SPPG sebanyak 21.000, namun yang terjadi di lapangan sudah mencapai 27.877 titik. Ada pembengkakan 6.877 titik.
Ketua Jong Sumekar Siswadi menjelaskan, pemerintah harus segera melakukan evaluasi menejemen program, terutama dalam lingkaran Badan Gizi Nasional (BGN). “Terjadinya kelebihan titik dari target semula itu mengindikasikan adanya praktik pelanggaran aturan yang sengaja dilanggar sendiri oleh oknum oknum BGN,” ujarnya, Ahad 14 Juni 2026.
Menurut Siswadi, salah satu solusi untuk mengembalikan pada target semula yakni dengan melakukan penutupan atau pencabutan ijin bagi mitra yang memiliki lebih dari satu SPPG.
“Kita tahu nih ada sebagian mitra yang memiliki lebih dari satu titik SPPG, contohnya banyak. Ini juga yang menjadi masalah utama, kenapa titik kemudian bisa lebih. Mereka cukup kasih satu SPPG saja. Kalau yang hanya punya satu SPPG mereka beri pembinaan menejemen serta mitigasi untuk meningkatkan kualitas” urainya.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, dalam konferensi pers di kantornya pada Kamis (11/6) mengatakan, akibat titik SPPG lebih tersebut, beban anggaran program prioritas pemerintah ini bertambah sekitar Rp1 triliun per bulan atau setara Rp12 triliun per tahun.
“Nah ini yang perlu penataan agar bisa diperbaiki dan diselesaikan,” katanya. (*/Ari)











