<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pesantren &#8211; Nata Indonesia</title>
	<atom:link href="https://nataindonesia.com/tag/pesantren/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nataindonesia.com</link>
	<description>Narasi Kita</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 Oct 2025 15:27:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://nataindonesia.com/wp-content/uploads/2022/12/nata-indonesia-32x32.png</url>
	<title>Pesantren &#8211; Nata Indonesia</title>
	<link>https://nataindonesia.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Selamat Hari Santri: Pesantren, Publik Mata Duitan, dan Artificial Intelligence</title>
		<link>https://nataindonesia.com/selamat-hari-santri-pesantren-publik-mata-duitan-dan-artificial-intelligence/</link>
					<comments>https://nataindonesia.com/selamat-hari-santri-pesantren-publik-mata-duitan-dan-artificial-intelligence/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nata]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Oct 2025 15:27:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Santri Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[HSN 2025]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nataindonesia.com/?p=7849</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Moh Riyadi* Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua dan paling otentik di Indonesia, ia...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh</strong> : <em><strong>Moh Riyadi</strong></em>*</p>
<p>Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua dan paling otentik di Indonesia, ia berdiri jauh sebelum istilah “lembaga pendidikan formal” dikenal. Di sana ilmu bukan sekadar kurikulum, melainkan laku hidup dan pondasi agama. Sistemnya sederhana, akan tapi sarat makna. Kiai sebagai pusat keteladanan, santri adalah murid sekaligus pejuang ilmu pengetahuan, dan masyarakat merupakan lingkar yang menopang keduanya.</p>
<p>Tradisi di pesantren mungkin memang tidak lazim bagi pandangan modern, santri menunduk, mencium tangan, bahkan kadang mencium kaki gurunya sebagai tanda hormat. Ada pula yang menyelipkan amplop berisi uang dalam salaman, itu adalah sebuah simbol terima kasih, bukan transaksi.</p>
<p>Tapi, (<em>ah sudah lah)</em> sebagian orang terburu-buru menilai itu sebagai bentuk feodalisme atau relasi ekonomi, ini adalah silogisme yang terjadi. Ketika penghormatan ditafsir hanya dengan logika untung rugi, yang hilang bukan hanya makna, akan tetapi juga adab.</p>
<p>Demikian yang dilakukan Trans7 tentang Pesantren Lirboyo, tayangan yang seharusnya memperkenalkan khazanah tradisi malah menggiring opini seolah pesantren adalah ladang kapitalisme spiritual dan sebuah “bisnis kharisma” yang memperjualbelikan kesucian. Framing semacam ini bukan hanya menyederhanakan realitas, akan tetapi juga mencederai kehormatan lembaga yang selama ini menjaga nalar dan moral bangsa.</p>
<p>Padahal bila mau berpikir jernih, apa yang salah dari seorang kiai menerima amplop dari santrinya sebagai tanda cinta adab dan rasa terimakasih karena telah diajarkan ilmu? Apakah amplop itu sepadan dengan jasa para kyai dan guru di pesantren yang telah berhasil mendidik anak menjadi orang hebat ? Tentu tidak sepadan karena kyai dan pesantren tentu sudah jelas jasanya bagi berdirinya sebuah negeri bermana NKRI.</p>
<p>Kiai bukan aparatur negara yang digaji dari pajak rakyat, malah sebaliknya, merekalah yang justru mengeluarkan uang pribadi demi menjaga keberlangsungan pendidikan. Banyak pesantren berdiri di atas tanah warisan, dibangun tanpa subsidi, dijalankan dengan gotong royong. Maka, ketika santri atau wali santri memberikan sebagian rezekinya, itu bukan suap itu sedekah sebagai tanda terimakasih meskipun tidak sepadan dengan jasa para kyai. Hal itu dilakukan sebagai bentuk saling menanggung beban agar ilmu tetap berjalan, dalam hal ini pesantren, kyai, dan santri lebih mengerti konsepsi dasar Ekasila bangsa.</p>
<p>Tanpa pesantren, kyai, santri dan para pejuang islam Nusantara niscaya sejarah berkata lain dalam mencatat kemerdekaan negeri ini, hal itu jelas dan terang dalam catatan berdirinya Republik ini. Bahwa peran kyai dan santri sangat fundamental, suka atau tidak negeri lekat dengan tradisi dan perjuangan pesantren dalam menata bangsa.</p>
<p><a href="https://nataindonesia.com/peringati-hsn-2024-jurnalis-filantropi-indonesia-bagikan-100-paket-alquran-dan-sembako-bagi-santri-dhuafa/">Hari Santri</a> yang diperingati setiap 22 Oktober seharusnya menjadi momen mengingat akar itu, santri bukan hanya pelajar kitab, akan tetapi juga penjaga bangsa. Sebelum republik ini berdiri, para santri sudah turun ke medan perjuangan. Resolusi Jihad 1945 lahir dari tangan ulama pesantren, jauh sebelum banyak tokoh nasional memahami arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Para kiai tak hanya membentuk moral umat, tapi juga pondasi kebangsaan.</p>
<p>Pesantren bukan sekadar tempat belajar ilmu agama. Ia adalah ruang hidup, tempat tumbuhnya karakter, akhlak, dan kebijaksanaan. Di pesantren, hubungan antara guru dan murid bukan hanya pengajar dan pelajar, melainkan penuh kasih, keteladanan, dan pembentukan jiwa. Bahkan santri militan akan melakukan segala hal yang diperintah oleh kyai dan ilmunya demi sebuah kebenaran, bahkan santri berani mati demi bangsa dan negara yang telah tercatat dalam titah peradaban bangsa Indonesia.</p>
<p>Kini, ketika dunia menghadapi revolusi teknologi dan krisis moral, pesantren kembali memegang peran strategis. Bukan hal tak mungkin transfer pengetahuan lewat guru kelak digantikan oleh teknologi kecerdasan (AI). AI bisa menjawab soal, menulis kitab, bahkan membuat khotbah. Pengetahuan tak lagi langka. Tapi ada yang tak bisa digantikan oleh algoritma, yakni moral!</p>
<p>AI bisa meniru nalar, tapi tidak bisa meniru niat. AI bisa menyusun argumentasi, tapi tidak bisa menumbuhkan empati. AI bisa mengenali pola, tapi tak punya hati nurani. Dunia semakin pintar, namun manusia bisa jadi rawan kehilangan kebijaksanaan.</p>
<p>Di saat manusia bisa belajar apapun lewat AI, hanya pesantren yang masih mengajarkan cara menjadi manusia. Kecerdasan buatan mampu meniru logika, tapi tidak bisa menanamkan keikhlasan. Mesin bisa menjawab pertanyaan, tapi tak mampu memahami niat.</p>
<p>Maka pesantren akan selalu relevan. Ia bukan anti-kemajuan, hanya menolak kehilangan ruh. Di tengah dunia yang semakin canggih tapi kehilangan hati, pesantren tetap berdiri di jalan yang sama; menjaga ilmu agar tetap beradab, dan menjaga adab agar tetap hidup.</p>
<p><em>“<strong>Ketika guru bisa digantikan mesin, hanya pesantren yang mampu menjaga kemanusiaan di dalam diri manusia</strong>.”</em></p>
<p><strong>*</strong><em>Politisi Kabupaten Sumenep</em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nataindonesia.com/selamat-hari-santri-pesantren-publik-mata-duitan-dan-artificial-intelligence/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Reuni Santri Pesantren Mathlabul Ulum 2025 Dihadiri 700 Alumni, KH Imam Hodri TF Minta Soliditas Diperkuat</title>
		<link>https://nataindonesia.com/reuni-santri-pesantren-mathlabul-ulum-2025-dihadiri-700-alumni-kh-imam-hodri-tf-minta-soliditas-diperkuat/</link>
					<comments>https://nataindonesia.com/reuni-santri-pesantren-mathlabul-ulum-2025-dihadiri-700-alumni-kh-imam-hodri-tf-minta-soliditas-diperkuat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nata]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2025 10:15:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Mutu Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren Mathlabul Ulum]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nataindonesia.com/?p=7427</guid>

					<description><![CDATA[Nataindonesia.com – Lebih dari 700 alumni Pondok Pesantren Mathlabul Ulum dari berbagai penjuru Indonesia menghadiri...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Nataindonesia.com</strong> – Lebih dari 700 alumni Pondok Pesantren Mathlabul Ulum dari berbagai penjuru Indonesia menghadiri Reuni Akbar yang digelar oleh Ikatan Keluarga Mathlabul Ulum (IKMU) pada Jumat, 27 Juni 2025. Acara yang berlangsung khidmat ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus momen mengenang masa-masa berharga saat nyantri di pesantren yang berlokasi di Jambu, Lenteng, Sumenep tersebut.</p>
<p>Reuni Akbar 2025 ini diisi dengan berbagai rangkaian kegiatan, seperti tahlil bersama, penetapan pengurus harian IKMU, dialog terbuka antaralumni, serta pengarahan langsung dari Pengasuh Pondok Pesantren Mathlabul Ulum, K.H. Imam Hodri TF. Para peserta juga disuguhkan pemutaran dokumentasi dan foto-foto sejarah pondok dari masa ke masa.</p>
<p>Sahrul Ardiansyah, ketua panitia sekaligus Ketua IKMU terpilih, menyampaikan rasa syukurnya atas suksesnya acara tersebut.</p>
<p>“Terima kasih kepada seluruh panitia dan alumni yang telah berpartisipasi. Semoga segala jerih payah dan kebersamaan ini dibalas oleh Allah SWT dengan pahala yang berlipat,” ujarnya.</p>
<p>Pihak alumni pusat menegaskan bahwa reuni akbar ini merupakan ajang penting untuk mempererat silaturahmi dan menguatkan kembali semangat kealumnian.</p>
<p>“Acara ini menyegarkan kembali kenangan saat kami menimba ilmu di pondok. Harapannya, setelah ini semangat sebagai alumni Mathlabul Ulum semakin menguat,” katanya.</p>
<p>Dalam sesi pengarahan, K.H. Imam Hodri TF menekankan pentingnya menjaga hubungan dengan almamater dan antaralumni. Ia mengajak para alumni agar aktif dalam kegiatan di daerah masing-masing dan terus berkontribusi bagi kemajuan pesantren.</p>
<p>“Ini adalah langkah awal untuk menjaga soliditas dan integritas alumni Pondok Pesantren Mathlabul Ulum,” tegasnya.</p>
<p>K.H. Imam Hodri TF juga menitipkan pesan spiritual agar para alumni tidak melupakan peran dan doa seorang ibu.</p>
<p>Sebagai penutup, para alumni dan peserta reuni melaksanakan Salat Jumat bersama, menandai berakhirnya rangkaian kegiatan Reuni Akbar 2025. (Ril/*)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nataindonesia.com/reuni-santri-pesantren-mathlabul-ulum-2025-dihadiri-700-alumni-kh-imam-hodri-tf-minta-soliditas-diperkuat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pesantren Filter Westernisasi pada Anak</title>
		<link>https://nataindonesia.com/peran-pesantren-dalam-membentuk-moral-anak/</link>
					<comments>https://nataindonesia.com/peran-pesantren-dalam-membentuk-moral-anak/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nata]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Nov 2023 12:51:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Moral Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Santri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nataindonesia.com/?p=5146</guid>

					<description><![CDATA[Peran Pesantren dalam Membentuk Moral Anak Pesantren di era modern mempunyai peran yang sangat penting...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h1>Peran Pesantren dalam Membentuk Moral Anak</h1>
<p>Pesantren di era modern mempunyai peran yang sangat penting dalam pembentukan moral anak. Pesantren adalah media relegius untuk menanamkan nilai-nilai moral di tengah-tengah pengaruh asing yang jauh dari nilai-nilai agama. &#8212; Alhasil Peranan pesantren menjadi sangat penting untuk menghentikan <em>westernisasi</em> (pemujaan terhadap tradisi barat) yang condong pada hal-hal negative. &#8212; Genari kita harus kembali di arahkan pada tradisi nenek moyang mereka yaitu kembali menganut nilai-nilai ketimuran (islam).</p>
<p>Pesantren juga mampu menciptakan santri-santri yang siap berkontestasi dalam ruang-ruang professional (ruang kerja) karena pesantren juga terus bergulir menyesuaikan diri dengan zaman dan berkontribusi dalam menjawab menjawab kebutuhan zaman namun pesantren tidak akan pernah meninggalkan tradisi/identitas mereka sebagai pengkaji kitab-kitab klassik seperti kitab ihya’ ulumuddin atau kitab hadits seperti bulughul maram dan riyadus sholihin.</p>
<p>Selain itu, penampilan santri terlihat lebih sopan dengan ciri khas mereka yang “sarungan”. Nilai-nilai agama benar-benar di terapkan dalam kehidupan sosial mereka. Inilah yang kemudian disebut &#8220;adab&#8221; kesantrian.</p>
<p>Adab para santri ditanamkan sedemikian, dcontohkan langsung oleh para ustazd/kiai sebagai suri tauladan mereka.</p>
<p>Para santri usai menempuh pendidikan di pesantren, mereka dituntut untuk menerapkan ilmu yang diajarkan oleh para guru mereka dalam kehidupan sosial masyarakat. Hal ini sesuai dengan semboyan spirit mereka, “ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah”.</p>
<p>History panjang tentang para santri, telah berhasil membentuk sudut pandang positif bagi masyarakat. Bahkan, sebagian masyarakat menganggap, &#8220;santri simbol kealiman dan keluasan ilmu&#8221;.</p>
<p>Secara tidak langsung, status &#8220;santri&#8221; telah menemapati hirarki sosial lebih tinggi dibanding status masyarakat umum. Mereka telah terikat dengan pola pandang yang konotosinya &#8220;Alim, pintar dan paham agama&#8221;. &#8212; Pola pandang masyarakat ini kemudian juga melahirkan hukum tidak tertulis yang mengharuskan santri mesti bisa menjawab persoalan sosial-agama. Minimal bisa menjadi imam shalat.</p>
<p>Berdasar uraian di atas, pesantren layak menjadi salah satu solusi terbaik untuk membentuk moral anak atau kaum pelajar. Pesantren adalah tameng di tengah dunia yang dilanda westernisasi dalam bingkai kemajuan teknologi informasi.</p>
<p>Penulis: Mahasiswa Sumenep Hulil Amsari</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nataindonesia.com/peran-pesantren-dalam-membentuk-moral-anak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
