<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Perdangan setifikat emisi karbon &#8211; Nata Indonesia</title>
	<atom:link href="https://nataindonesia.com/tag/perdangan-setifikat-emisi-karbon/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nataindonesia.com</link>
	<description>Narasi Kita</description>
	<lastBuildDate>Mon, 20 Nov 2023 07:24:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://nataindonesia.com/wp-content/uploads/2022/12/nata-indonesia-32x32.png</url>
	<title>Perdangan setifikat emisi karbon &#8211; Nata Indonesia</title>
	<link>https://nataindonesia.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mengenal Ekonomi Sirkular dan Manfaatnya</title>
		<link>https://nataindonesia.com/mengenal-ekonomi-sirkular-dan-manfaatnya/</link>
					<comments>https://nataindonesia.com/mengenal-ekonomi-sirkular-dan-manfaatnya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nata]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Nov 2023 00:00:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Hijau]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Sirkular]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Perdangan setifikat emisi karbon]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nataindonesia.com/?p=5087</guid>

					<description><![CDATA[EKonomi Sirkular &#38; Sampah Rantai Produksi Ekonomi Sirkular jalan menuju lingkungan sehat, merawat alam dari...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h1>EKonomi Sirkular &amp; Sampah Rantai Produksi</h1>
<p>Ekonomi Sirkular jalan menuju lingkungan sehat, merawat alam dari limbah, melindungan kesehatan mahluk hidup dari polusi dan memperkecil resiko negatif rantai produksi. Ini adalah cara baru yang dikampanyekan organisasi peduli lingkungan dalam merawat bumi yang berdampak pada perekonomian masyarakat.</p>
<h2>Apa Ekonomi Sirkular?</h2>
<p>Ekonomi sirkular adalah model yang berupaya memperpanjang siklus pemanfaatan dari suatu produk, bahan baku, dan sumber daya yang ada agar dapat dipakai selama mungkin &#8212; Prinsip penerapan ekonomi sirkular adalah untuk  menjaga produk dan material agar terpakai selama mungkin. Tujuannya tidak lain yakni guna megurangi limbah dan polusi.</p>
<p><a href="https://nataindonesia.com/ekonomi-sirkular-di-indonesia-dan-eropa/">Penerapan Ekonomi</a> Sirkular semula dan terus dikampanyekan oleh organisasi nirlaba Ellen Macarthur Foundation. Berdasar penelitian yang sudah dilakukan, mereka mengklaim bahwa perubahan iklim tidak bisa hanya dilakukan dengan kampanye atau <a href="https://nataindonesia.com/awal-mula-perdagangan-karbon-dunia-indonesia-memulai-sejak-2015/">penerapan energi terbarukan</a>. Pasalnya, penerapan energi terbarukan hanya akan mengatasi 55% emisi global.</p>
<p>&#8220;Untuk mencapai net-zero, kita juga perlu mengubah cara kita membuat dan menggunakan produk, bahan, dan makanan,&#8221; terang meredak seperti tertulis dalam website resminya, dikutip nataindonesia.com, Senin 20 November 2023.</p>
<p>Selain itu, Ekonomi Sirkular juga akan bisa menjadi soluisi tepat dalam menangani keanekaragaman hayati yang banyak hilang akibat pencemaran lingkungan, baik di darat, udara dan air.</p>
<p>Kerusakan lingkungan akibat limbah dan sampah erat kaitannya dengan industri (besar-kecil) dan perlikuan konsumen masyarakat, hal ini dekenal dengan rantai produksi &#8212; Jadi ada pola ekonomi yang penting diperhatikan dalam rantai produksi ini.</p>
<p>Selama bertahun-tahun, seluruh negara menerapkan rantai produksi model ekonomi linier &#8212; yakni dengan tahapan: <span style="color: #000000;"><strong>&#8220;Produksi &#8211;  Pakai &#8211; Buang&#8221;</strong></span></p>
<p>Ternyata hal ini telah menimbulkan banyak masalah tentang lingkungan, mulai dari cuaca ekstrim, gempa, sunami, sungai kering, penyakit menular, dan sebagainya. &#8212; Maka kemudian dikenalkan model Eknomisi Sirkular sebagai solusi baru dari dampak dari rantai produksi yang kurang baik.</p>
<p>Penerapan ekonomi sirkular begini: <strong>&#8220;Produksi &#8211; Pakai &#8211; penyegaran fungsi &#8211; pakai&#8221;</strong> &#8212; jadi penggunaan suatu barang diupayakan selama mungkin bisa digunakan.</p>
<h3>Ekonomi Sirkular Kesadaran Bersama</h3>
<p>Ekonomi Sirkular kini sudah mulai diterapkan di <a href="https://nataindonesia.com/ekonomi-sirkular-di-indonesia-dan-eropa/">berbagai negara</a>. Hal itu tidak lepas dari kampanye Ellen Macarthur Foundation yang terus berupaya agara model ini bisa diterapkan oleh seluruh lapisan masyarakat.</p>
<p>&#8220;Jaringan kami menyatukan perusahaan-perusahaan terkemuka di industri, inovator baru, jaringan afiliasi, otoritas pemerintah, wilayah, dan kota. Tujuannya adalah untuk membangun kapasitas ekonomi sirkular , mengatasi hambatan-hambatan umum dalam mencapai kemajuan,&#8221; terang mereka. (has/red)</p>
<p>Penulis: Hasan<br />
Editor : Redaksi</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nataindonesia.com/mengenal-ekonomi-sirkular-dan-manfaatnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Awal Mula Perdagangan Karbon Dunia, Indonesia Memulai sejak 2015</title>
		<link>https://nataindonesia.com/awal-mula-perdagangan-karbon-dunia-indonesia-memulai-sejak-2015/</link>
					<comments>https://nataindonesia.com/awal-mula-perdagangan-karbon-dunia-indonesia-memulai-sejak-2015/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Nata]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Sep 2023 06:40:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[efek rumah kaca]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia resmikan perdagangan karbon]]></category>
		<category><![CDATA[pemanasan global]]></category>
		<category><![CDATA[Perdangan setifikat emisi karbon]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nataindonesia.com/?p=4626</guid>

					<description><![CDATA[Perdagangan karbon menjadi solusi masalah Iklim global yang semakin buruk sejak era industri dimulai. Pemanasan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Perdagangan karbon menjadi solusi masalah Iklim global yang semakin buruk sejak era industri dimulai. Pemanasan global akibat efek rumah kaca menyebabkan penipisan lapisan ozon. Hal itu memicu cuaca ekstrem yang berdampak buruk bagi lingkungan. Seperti panas menggila, hujan tidak menentu, tornado, tsunami hingga gempa bumi.</p>
<p>Efek rumah kaca atau pemanasan global sebagian besar disebabkan oleh industri besar di negara-negara maju. Asap industri telah menyebabkan pencemaran udara, alhasil cadangan oksigen di udara tergusur oleh peningkatan karbon dioksida yang semakin tidak menentu.</p>
<p>Para ilmuan dan negara-negara maju akhirnya menyadari krisis lingkungan yang semakin parah. Mereka akhirnya berkumpul mencari solusi guna mencari emisi karbon (penetralan udara) dan menjadikan kegiatan industri ramah lingkungan.</p>
<h1>Sejarah Singkat Perdagangan Emisi Karbon</h1>
<p>Di titik ini lah kemudian muncul skema perdagangan karbon sebagai salah satu solusi mengatasi pemanasan global.</p>
<p>Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Stokcholm 1972 mengadakan Konferensi tentang Lingkungan Hidup Manusia. Pada konferensi ini, perwakilan dari berbagai negara bertemu untuk pertama kalinya dan membahas situasi lingkungan hidup secara global. Pertemuan pertama ini belum menghasilkan solusi kinerja bersama. Baru pada pertemua kedua negara anggota PBB mulai ada tindakan.</p>
<p>Pertemuan kedua dikenal dengan sebutan Rio de Janeiro 1992. PBB kembali mengadakan Konferensi Bumi, di mana pada konferensi ini terbentuk konvensi kerja yang disebut United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Tujuan utama UNFCCC adalah menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer hingga berada di tingkat aman.</p>
<p>Usai itu, pada 1997 UNFCCC mulai mengatur ketentuan stabilitas konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer dalam Protokol Kyoto. Protokol ini disahkan pada 11 Desember 1997 dan mulai berlaku pada 16 Februari 2005. Periode komitmen pertama dimulai pada tahun 2008 dan berakhir pada tahun 2012, di mana 38 negara-negara industri dan masyarakat Eropa dituntut untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar rata-rata 5% di bawah tingkat emisi di tahun 1990.</p>
<p>Pada periode komitmen kedua (2013-2020), target pengurangan emisi sebesar 18% di bawah tingkat emisi tahun 1990. Meski Protokol Kyoto mampu menekan emisi di negara-negara terikat (27% dari emisi karbon global pada periode pertama, dan 15% pada periode kedua), namun emisi karbon global juga meningkat sebesar 2.6% di tahun 2012 atau sekitar 58% lebih tinggi dari tingkat emisi tahun 1990.</p>
<p>Beberapa tahun kemudian, Protokol Kyoto 1997 mulai membentuk perjanjian bersama beranggotakann195 pemerintah dari berbagai negara. Perjanjian ini bertempat di Negara Paris, sehingga perjanjian ini dikenal dengan perjanjian Paris (Paris Agreement) pada 12 Desember 2015.</p>
<p>Perjanjian Paris sepenuhnya bersifat sukarela. Negara-negara tersebut berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dan memastikan suhu global tidak naik lebih dari 2˚C (3.6˚F), serta menjaga kenaikan suhu global tetap di bawah 1.5˚C (2.7˚F).</p>
<p>Perjanjian Paris ini mulai berlaku efektif pada 4 November 2016. Negara-negara yang menyepakati Perjanjian Paris diharuskan untuk menyerahkan Nationally Determined Contributions (NDCs)–rencana pengurangan emisi dan strategi penerapannya setiap lima tahun sekali. Setiap NDC baru harus lebih ambisius dari rencana sebelumnya, terutama dalam peningkatan target emisi yang dikurangi.</p>
<p>Indonesia sejak 2015 silam sudah mulai aktif untuk melakukan perdagangan karbon. Kendati demikian kala itu masih terjadi pro dan kontra. Berbagai isu lingkungan sosial dan damapak ekonomi masyarakat menjadi momok yang memperlambat implementasi perdagangan karbon Indoneisa.</p>
<p>Kemudian, Presiden Joko Widodo pada Senin (25/9) lalu telah meresmikan peluncuran perdagangan emisi karbon. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia. Selain itu, hutan Indonesia juga disebut sebagai paru-paru dunia karena memiliki cadangan oksigen melimpah dari hutannya.</p>
<p>Penulis: Bahri</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://nataindonesia.com/awal-mula-perdagangan-karbon-dunia-indonesia-memulai-sejak-2015/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
