News  

Mitra SPPG di Sumenep Dapat Ancaman dari Oknum Wartawan LSM Jualan Anak Yatim!

Mitra SPPG saat rapat bersama pihak Badan Gizi Nasional (BGN) setahun lalu. (Rifki/nataindonesia.com)

Nataindonesia.com – Salah satu mitra atau pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Sumenep mengaku mendapat nada ancaman dari oknum wartawan LSM. Mitra ini diminta untuk menyumbang pada acara yang bakal di gelar media wartawan LSM tersebut.

“Kalau tidak menyumbang katanya jangan salahkan jika ada pemberitaan citra miring. Memang tidak disebutkan gamblang namun pesan eksplisit dalam bahasanya mengarah ke ancaman demikian,” kata Mitra SPPG kepada Nataindonesia.com, pada Kamis Maret 2026, di Sumenep.

Mitra SPPG ini namanya enggan disebutkan karena takut jadi masalah panjang. “Tolong jangan sebut nama, saya cuma kesel saja sama oknum seperti ini, kami siap membantu hal yang berkaitan dengan program program sosial, namun harus paham etika dan kode etik” ungkapnya.

Ia menjelaskan, pihaknya terbuka bagi semua kalangan masyarakat yang butuh bantuan dalam kegiatan sosial apapun. Lebih lebih di bulan suci Ramadhan yang penuh berkah. “Hitung hitung sebagai amal serta sekalian mempererat jalinan kebersamaan,” jelasnya.

Baca Juga:  Risalah 99 Kiai Jawa Timur untuk Muhaimin Iskandar

Media (wartawan), sambungnya, mestinya menjadi penggerak edukasi, penyajian informasi yang mendidik serta kreatif. Pasalnya, wartawan bakal bernilai jika gagasan dan ide idenya mampu memberikan stimulus perubahan bagi masyarakat pada umumnya.

“Coba tawarkan ke kami apa ide dan gagasannya yang sekiranya bisa membantu program MBG ini semakin berjalan dengan baik sesuai harapan presiden. Kan jelas tuh tujuan MBG salah satunya mendongkrak ekonomi daerah,” urainya.

Baca Juga:  Prediksi Korea Selatan Akan Bubar: Sebuah Analisis

Oknum wartawan LSM yang dikayan telah memberikan nada ancaman tidak etis tersebut semula juga telah mengirimkan surat permohonan bantuan dana untuk kegiatan santunan anak yatim. Seperti surat yang sudah diterima oleh redaksi Nataindonesia.com.

Pengelola SPPG ini menegaskan, pihaknya merasa cukup malu karena ada oknum media mengatasnamakan bantuan anak yatim namun perilakunya jauh dari profesi profesional. “Jangan jualan nama anak yatim tapi jual gagasan dan ide,” pungkasnya. (ari/red)